Cagar Budaya Borobudur
Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.
Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur, bersama Pamong Carita.
Pamong Carita yang ramah akan menemani di kesempatan menarik ini dengan memberikan narasi dan penjelasan yang bertujuan untuk mengenal dan mempelajari lebih dekat tentang Borobudur dan sekitarnya. Menyenangkan bersama Pamong Carita untuk memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan saat mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas melingkar dengan deretan stupa di Candi Borobudur.
Berwisata bersama Pamong Carita, mengenal Borobudur dan sekitarnya lebih dekat, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa cagar budaya warisan leluhur Candi Borobudur masa Jawa Kuno. Menelusuri narasi tentang keberadaan cagar budaya Borobudur sebagai wujud apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Borobudur sebagai bangunan suci merupakan candi Budha terbesar di dunia yang ada di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan beragama dan menjadi latar belakang berdirinya kerajaan-kerajaan yang berkuasa di pulau ini.
Cagar Budaya Borobudur
Chandi Borobudur adalah sebuah situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Masuk dalam daftar salah satu situs warisan budaya dunia adalah Candi Borobudur, sejak tahun 1991 oleh UNESCO, sehingga bangunan ini menjadi bagian dari monumen terbesar di dunia.
Pencapaian estetika dan keahlian teknik arsitektur yang ditampilkan Borobudur, serta ukurannya yang luar biasa, menjadi bukti keagungan masa lalu, dan telah membangkitkan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Borobudur telah menjadi simbol yang kuat bagi Indonesia yaitu sebagai saksi kejayaan masa lalu.
Chandi Borobudur dibangun abad VIII-IX M, yang disebutkan dalam dua prasasti yaitu Karangtengah 824 M dan Sri Kahulunan 842 M, oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra yang berkuasa kurun waktu sekitar 782 – 812 M, dengan latar belakang agama Buddha Mahayana. Sebagai bangunan suci untuk peribadatan dan tempat pemujaan.
Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Bangunan ini dibangun dengan bentuk arsitektur Jawa-Budha yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.
Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.
Secara dimensi, Candi Borobudur mempunyai denah berbentuk persegi panjang dengan dimensi panjang dan lebar 121,66 m x 121,38 m. Ketinggiannya, tidak termasuk puncak chatra, adalah 35,40 meter. Candi Borobudur tersusun dari batu andesit dan terdiri dari 10 lantai dengan stupa induk di puncaknya, paling besar dan dikelilingi deretan stupa berlubang tiga tingkat yang berjumlah 72 stupa dan di dalamnya terdapat patung Budha.
Tersusun dari batu andesit sebanyak 55.000 meter kubik batu (2.000.000 potong batu) dan pada dinding lorong batu terdapat pahatan relief berjumlah 1.460 panil cerita yang terbagi dalam 160 panil cerita Karmawibhangga, 1300 panil cerita Lalitavistara, cerita Jataka Avadana dan cerita Gandawyuha. Sedangkan panel relief dekoratif berjumlah 1.212 panel relief.
Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa.
Bangunan suci umat Buddha Candi Borobudur pernah mengalami masa “terabaikan”, bangunan dan dinding mengalami runtuh, rusak dan tidak terurus. Akibat bencana alam dan letusan gunung Merapi bangunan candi Borobudur tertutup abu dan tanah yang mengakibatkan pemeluk agama Buddha yang tinggal di daerah bangunan tersebut meninggalkan Borobudur, sebagaimana sejarah yang disebutkan dalam buku “Babad Tanah Jawi” tahun 1709 dan “Babad Tanah Mataram” tahun 1757.
Pada tahun 1814, masyarakat Bumisegoro sekitar Borobudur menyebutkan dan menginformasikan adanya sebuah candi atau bangunan suci yang terkubur dan tertutup tanah, yang berada di dalam bukit, sehingga menarik perhatian untuk diselidiki. Candi Borobudur mendapat perhatian serius dan penyelidikan dimulai oleh Thomas Stanford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggris yang berada di Pulau Jawa.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Raffles adalah orang pertama yang menemukan Candi Borobudur. Upaya peresmian bangunan yang dilakukan Raffles merupakan momentum penting untuk memperkenalkan Candi Borobudur ke dunia internasional. Kemudian oleh seorang insinyur Belanda H.C Cornelius yang dibantu sekitar 200 orang selama 45 hari membersihkan semak-semak yang menutupi bukit Candi Borobudur.
Upaya pembersihan selanjutnya dilakukan pada tahun 1835 yang dipimpin oleh Hartman, seorang Residen Kedu. Pada era ini, deskripsi Candi Borobudur juga dilakukan oleh Brumun dan sketsanya dilakukan oleh Wilson. Pada tahun 1885, Jan Willem Ijzerman, seorang insinyur yang saat itu menjabat sebagai presiden pertama Archeologische Vereniging Yogyakarta – Sarekat Arkeologi, bersama timnya melakukan penggalian dan menemukan dasar Borobudur berupa rangkaian relief panjang yang dikenal dengan nama relief Karmawibhangga. Saat itu, fotografer pribumi, Kassian Cephas, diminta memotret seluruh 160 panil relief yang tampak dari hasil penggalian. Setelah itu rangkaian panel relief ditutup kembali.
Candi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia – Unesco World Heritage 1991.
Chandi Borobudur mengalami bangunan runtuh dan akibat bencana alam serta letusan gunung berapi, bangunan ini terbengkalai dan terkubur di dalam bukit. Stupa-stupa di teras Arupadhatu tertutup tanah. Semak dan pohon-pohon besar tumbuh di halaman sekitar candi. Tanah penutup candi dibuang ke sekeliling bukit. Reruntuhan batu bertumpuk di sekitar kaki candi.
Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.
Melangkah di Borobudur
Chandi Borobudur merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang mempunyai nilai luhur dan sejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata sangat terkagum-kagum akan kemegahan dan keindahan monumen ini.
Lokasi candi kurang lebih 99 kilometer di sebelah barat daya Kota Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Kota Surakarta, dan 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta.
Borobudur dibangun di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.
Terletak Borobudur atau Barabudur, nama Borobudur berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.
Para peziarah masuk melalui sisi timur mulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).
Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong-lorong dan tangga yang mendaki dengan menyaksikan tidak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Pelestarian Cagar Budaya Borobudur
Chandi Borobudur merupakan salah satu dari beberapa Situs Warisan Budaya di Indonesia yang berbentuk bangunan candi terbesar. Saat ini Borobudur telah dimasukkan sebagai situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site. Dibangun pada abad IX dengan latar belakang agama Buddha Mahayana dan pada masa kejayaan Dinasti Syailendra.
Secara administratif Chandi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Chandi Borobudur terletak di atas bukit di dataran yang dikelilingi dua pasang gunung; Gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara terdapat Bukit Tidar, dan di selatan terdapat pegunungan Menoreh, serta terletak di dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.
Borobudur telah mengalami beberapa rangkaian upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan internasional. Pasca pemugaran Borobudur secara besar-besaran pada tahun 1973, menurut UNESCO, pihak konservasi monumen ini telah mengidentifikasi tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian Borobudur, yaitu vandalisme atau kerusakan yang disebabkan oleh pengunjung; erosi tanah di bagian tenggara lokasi; analisis dan pemulihan bagian yang hilang.
Beberapa hal seperti tanah gembur, beberapa kali gempa bumi dan hujan deras dapat mengguncang struktur bangunan ini. Gempa bumi merupakan faktor yang paling serius, karena tidak hanya bebatuan yang dapat runtuh dan lengkungan yang runtuh, tanah itu sendiri juga bergerak dalam gelombang yang dapat merusak struktur bangunan.
Mencermati beberapa hal di Borobudur terkait kondisi bangunan yang rusak, termasuk kondisi stupa di teras Arupadhatu tertutup debu dan tanah. Semak dan pepohonan besar tumbuh di halaman sekitar gedung. Tanah yang menutupi bangunan sebagian besar telah dihilangkan dan dipindahkan di sekitar bukit. Reruntuhan batu pada bangunan ditempatkan di sekitar kaki candi.
Candi Borobudur sebagai salah satu peninggalan cagar budaya di Indonesia yang berupa bangunan candi. Pemeliharaan dan perlindungan candi Borobudur sebagai destinasi wisata tunggal di Indonesia dilakukan oleh Balai Studi Konservasi meliputi beberapa hal diantaranya untuk menanggulangi bencana alam akibat letusan gunung berapi, yang paling dekat adalah gunung Merapi. Gunung yang paling aktif di Jawa.
Sebagai bangunan agama Buddha yang terbesar, dan tersusun dari 55.000 meter kubik batu dengan kondisi batu dan tanah bukit yang tidak stabil, maka perlu pemeliharaan dan perlindungan pada Borobudur. Perlindungan dari runtuhnya batu bangunan candi, tanah bukit yang tidak stabil menyebabkan longsor, ancaman tumbuhan lumut dan kerak batu memberikan perhatian yang serius.
Selama beberapa dekade terakhir, setelah pemugaran Borobudur oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, konservasi Borobudur dilakukan oleh Balai Studi Konservasi di Indonesia dan melibatkan dunia yaitu UNESCO. Untuk saat ini Balai Studi Konservasi menjadi Balai Konservasi Borobudur (BKB).
Secara keseluruhan, UNESCO telah mempelajari dan mengidentifikasi dengan serius yang berkaitan dengan rehabilitasi Borobudur yaitu tentang tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian bangunan ini. Disebutkan tiga hal yang meliputi hal-hal seperti vandalisme atau pengrusakan yang dilakukan oleh pengunjung, tidak stabilnya kondisi tanah yang menyebabkan erosi tanah pada bagian sebelah tenggara situs, dan analisis dan pengembalian bagian-bagian yang hilang.
Tanah liat berada pada curah hujan yang tinggi menjadi gembur, akibat beberapa kali gempa bumi, dan curah hujan dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi akibat letusan gunung berapi adalah faktor yang berdampak paling parah, karena tidak saja batu-batu dapat jatuh dan pintu gerbang pelengkung ambruk, tanah yang bergerak dan bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan.
Tradisi kebudayaan yang berhubungan dengan masyarakat Jawa bahwa tujuan untuk mendapatkan keberuntungan dengan menyentuh batu Borobudur telah meningkatkan popularitas salah satu stupa yang berada di tingkat atas yang berbentuk lingkaran, dengan tradisi menyentuh arca Buddha didalamnya telah menarik banyak pengunjung yang sebagian besar adalah untuk mendapatkan keberuntungan. Papan pengumuman tentang apa yang dilakukan selama berkunjung dan berada di bangunan.
Borobudur telah memberikan tulisan yang terdapat di beberapa teras banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, hal-hal yang berhubungan dengan vandalisme seperti pengrusakan dan pencorat-coretan relif dan arca masih banyak terjadi, hal ini jelas akan merusak bangunan situs bersejarah ini.
Pada 27 Mei 2006, telah terjadi gempa yang berkekuatan 6,2 skala rikhter mengguncang pesisir pantai selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini telah menghancurkan beberapa wilayah sebelah selatan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, bencana tersebut tidak banyak berpengaruh pada candi Borobudur.
Pada 28 Agustus 2006, simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, hadir pada acara tersebut perwakilan dari UNESCO dan negara - negara yang mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja.
Candi Borobudur terkena dampak parah akibat letusan Gunung Merapi pada tahun 2010, abu vulkanik menutupi bangunan dan mencapai ketebalan sekitar 25 sentimeter (10 in) menutupi bangunan candi pada saat letusan tanggal 3–5 November 2010. Debu vulkanik juga merusak dan membunuh tanaman di dekatnya, dan para ahli khawatir abu vulkanik secara kimiawi bersifat asam, sehingga dapat merusak bebatuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November 2010 untuk menghilangkan lapisan debu.
Pembersihan candi dari endapan abu vulkanik akan memakan waktu kurang lebih 6 bulan, kemudian melakukan penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem air dan drainase yang tersumbat oleh campuran abu vulkanik bercampur air hujan. Pemugaran berakhir pada November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.
Chandi Borobudur sangat terpengaruh oleh letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010. Abu vulkanik dari gunung Merapi jatuh di kompleks candi, yang berjarak sekitar 30 kilometer (18 mil) barat - barat daya kawah. Lapisan abu setebal 2,5 sentimeter (1 in) jatuh di atas patung candi selama letusan 3 – 5 November, juga membunuh vegetasi di dekatnya, dengan para ahli khawatir abu asam dapat merusak situs bersejarah tersebut.
Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November untuk membersihkan abu yang jatuh. UNESCO menyumbangkan US$3 juta sebagai bagian dari biaya untuk rehabilitasi candi Borobudur setelah letusan Gunung Merapi tahun 2010. Lebih dari 55.000 balok batu yang menyusun bangunan candi dibongkar untuk memulihkan sistem drainase yang tersumbat lumpur setelah hujan.
Pada Januari 2012, dua ahli konservasi batu Jerman menghabiskan sepuluh hari di lokasi untuk menganalisis candi dan membuat rekomendasi untuk memastikan pelestarian jangka panjangnya. Pada bulan Juni, Jerman setuju untuk memberikan kontribusi $130.000 kepada UNESCO untuk rehabilitasi tahap kedua, di mana enam ahli konservasi batu, mikrobiologi, teknik struktur dan teknik kimia akan menghabiskan waktu seminggu di candi Borobudur pada bulan Juni kemudian kembali untuk kunjungan lagi pada bulan September atau Oktober.
Misi ini akan meluncurkan kegiatan pelestarian yang direkomendasikan dalam laporan bulan Januari dan akan mencakup kegiatan peningkatan kapasitas untuk meningkatkan kemampuan pelestarian staf pemerintah dan ahli konservasi muda.
Pada Agustus 2014, Balai Konservasi Chandi Borobudur melaporkan adanya abrasi parah pada tangga batu yang disebabkan oleh gesekan alas kaki pengunjung. Otoritas konservasi berencana memasang tangga kayu untuk menutupi dan melindungi tangga batu asli, seperti yang dipasang di Angkor Wat.
![]() |
Rehabilitasi Borobudur Mencermati upaya rehabilitasi candi Borobudur setelah letusan gunung Merapi 2010, UNESCO menyumbangkan dana untuk mendanai upaya rehabilitasi pembersihan debu vulkanik. Salah satu pembersihan stupa di tiga teras tingkat Arupadhatu, dari debu vulkanik paska letusan gunung Merapi tahun 2010 di Borobudur. Pembersihan dan pemasangan drenase pipa air. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Pada tanggal 14 Februari 2014, tempat-tempat wisata utama di Yogyakarta dan Jawa Tengah, termasuk candi Borobudur, candi Prambanan dan candi Ratu Boko, ditutup untuk pengunjung, setelah terkena dampak parah dari abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, yang terletak di sekitar 200 kilometer timur dari Yogyakarta. Para pekerja menutupi stupa ikonik dan patung Borobudur untuk melindungi struktur dari abu vulkanik.
Candi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO.
Menyelamatkan Borobudur
Borobudur di masa Pemugaran.
Stupa-stupa sebelum pemugaran Candi Borobudur pada kondisi bagian Stupa sebelum pemugaran. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata sebagai bagian benda kuno. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena itu kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.
Pemugaran Borobudur
Borobudur kembali menarik perhatian pada tahun 1885, saat penggalian oleh Yzerman, yang menemukan kaki tersembunyi. Hasil penggalian berupa foto-foto yang memperlihatkan seluruh relief pada dinding kaki candi yang dibuat pada periode 1890-1891. Hasil penemuan tersebut mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah selanjutnya dalam melestarikan Borobudur.
Dilihat dari komposisinya, batu-batu Borobudur merupakan material yang terletak di lingkungan terbuka yang sangat rentan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Pembersihan batu-batu bangunan dari lapisan tanah, semak-semak dan pepohonan mengakibatkan struktur dan susunan batu-batu tersebut tersingkap dan hal ini berinteraksi langsung dengan perubahan kondisi lingkungan.
Selain perubahan suhu, lingkungan, dan kelembapan, ancaman lainnya adalah interaksi dan pengaruh air. Air yang masuk dan menempel pada pori-pori batuan andesit akan menyebabkan kelembaban meningkat dan dapat mempercepat laju pelapukan. Selain material batuan, air yang masuk dan terperangkap di dalam tanah juga menyebabkan tanah menjadi jenuh dan mengakibatkan daya dukungnya menurun. Hal ini akan memicu terjadinya longsor dan kestabilan daya dukung tanah, mengingat letak struktur batu Borobudur yang berada di atas bukit.
Selain berbagai faktor alam yang menyebabkan kerusakan pada struktur batunya, Borobudur juga mengalami kerusakan akibat pembongkaran bangunan batu untuk mendapatkan barang antik yang mengakibatkan kondisi struktur batu tersebut hilang. Sebagaimana diketahui, stupa induk Borobudur pernah dibuka dengan tujuan untuk mencari kemungkinan ditemukannya benda-benda berharga di dalam stupa tersebut. Ternyata itu bukanlah sebuah benda berharga atau sejenis perhiasan, melainkan sebuah patung Buddha yang belum selesai atau tidak sempurna, yang berada di dalam stupa induk.
Beberapa upaya konservasi telah dilakukan seperti pembersihan gula dan akar pohon yang tumbuh di permukaan batuan dan sela-sela formasi batuan dengan menggunakan bahan kimia.
Upaya untuk menduplikasi relief dengan cara teknik abklats juga pernah dilakukan, dengan menggunakan semen, pembuatannya sesuai pada relief dinding candi, dengan semen dan bahan kimia.
Selanjutnya observasi, dokumentasi dan upaya konservasi dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1900 dengan membentuk komisi yang terdiri dari tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, seorang insinyur konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Pada tahun 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga tahap rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang ada harus diatasi dengan menata ulang sudut-sudut bangunan, dengan membuang dan membuang batu-batu yang membahayakan batu-batu lain di sebelahnya, serta memperkuat langkan pertama, dan memulihkan beberapa relung, lengkungan, stupa, dan restorasi bangunan stupa utama.
Kedua, memagari pekarangan candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, seluruh batu yang lepas harus disingkirkan, tugu dibersihkan hingga langkan pertama, pecahan batu disingkirkan, dan stupa induk dipugar. Total biaya yang dibutuhkan saat itu diperkirakan sekitar 48.800 Gulden.
Catatan Singkat Pemugaran Borobudur
Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.
Pemugaran Van Erp
Theodor Van Erp merupakan salah satu sosok yang tidak lepas dari perjalanan panjang Candi Borobudur hingga saat ini. Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Van Erp ini merupakan pelopor pemugaran Candi Borobudur pertama pada tahun 1907 – 1911. Van Erp yang lahir di Ambon pada tanggal 26 Maret 1874 ini tidak hanya dikenal di dunia kepurbakalaan dan arkeologi, namun masyarakat luas juga mengenal sosok ini. Latar Belakang Van Erp sendiri adalah seorang militer yang bertugas dan menghabiskan sebagian besar waktunya menyelamatkan Candi Borobudur.
Pelopor pertama dalam pembukaan batu-batu Borobudur setelah untuk waktu yang lama tertutup semak dan debu vulkanik, sehingga bangunan ini terbengkalai. Borobudur mendapat perhatian serius oleh Van Erp dengan melaksanakan pemugaran. Kemudian pada tahun 1907 pemugaran dimulai oleh Van Erp dengan waktu penyelesaian kurang lebih 4 tahun.
Proses restorasi yang dilakukan oleh Van Erp dirinci dengan perkiraan biaya dan menggunakan alur yang sistematis. Pemugaran dilakukan dari tahun 1907 hingga 1911 dengan menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin oleh Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala Buddha dan panel batu yang hilang. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga platform lingkaran atas dan stupa.
Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; dia mengajukan proposal lain, yang disetujui dengan tambahan biaya sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, dengan hati-hati memasang kembali chattra (payung yang terbuat dari tiga tumpukan batu), yang merupakan mahkota di puncak Borobudur. Sekilas, Borobudur telah pulih ke masa kejayaannya. Namun, instalasi chattra tidak dapat dianggap sebagai bentuk aslinya, sehingga Van Erp membongkar kembali bagian chattra. Kini mastaka tiga tingkat atau puncak chattra Borobudur disimpan di Balai Konservasi Borobudur.
![]() |
Chatra Pinnacle stupa induk Borobudur Chattra (payung batu tiga tingkat) yang menjadi mahkota puncak Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Meneliti masalah teknis yang terjadi pada pemugaran Van Erp adalah deformasi air dan keberadaan tanah bukit tempat bangunan ini dibangun. Masalah air ini sangat terlihat berdampak cukup besar terhadap tingkat pelapukan batu-batu penyusun bangunan ini, terutama pada batu dinding-dinding relief. Posisi dan letak batu-batu yang berada di dinding akan berinteraksi langsung dengan lapisan tanah perbukitan yang sangat rentan terhadap rembesan air tanah bukit. Kemudian rembesan air yang keluar melalui celah-celah batu dapat mengakibatkan penggaraman.
Hal ini merupakan salah satu upaya penanggulangan dalam mengatasi masalah rembesan air dan merupakan tujuan utama dalam pemugaran Van Erp. Maka pekerjaan awal dalam pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp adalah upaya mengembalikan letak batu-batu ke tempat semula. Dalam proses pencocokan batu-batu ini Van Erp menggunakan metode Anastilosis, yaitu proses pencocokan batu dalam metode anastilosis dengan aktifitas tidak memperbolehkan interpretasi bentuk struktur batu-batu tanpa menemukan sambungan pada material batu aslinya. Perbandingan tersebut didasarkan pada struktur dan susunan batu yang ada.
Pemugaran pada zaman Van Erp dengan metode anastilosis merupakan upaya untuk mengembalikan komponen struktur dan arsitektural Borobudur dengan tetap menjaga prinsip keaslian dan keutuhan sehingga saat ini kita dapat melihat keutuhan dan kemegahan aspek struktur dan arsitekturalnya. Upaya pemasangan mortar pada bagian celah batu dimaksudkan untuk mengurangi volume air yang masuk ke dalam struktur tanah bukit candi. Kondisi kelebihan air yang masuk ke dalam struktur tanah perbukitan akan menyebabkan tanah menjadi penuh, jenuh air dan daya dukungnya menurun, sehingga rawan longsor. Upaya meminimalisasi dampak air terhadap kondisi pemeliharaan dan ancaman terhadap struktur candi juga diterapkan pada selasar dan undakan.
Beberapa hal yang dilakukan dalam pemugaran Van Erp antara lain penguatan struktur pada anak tangga dan jalan setapak, serta dinding dan lantai teras atas (dataran tinggi). Lantai teras yang miring dan cekung ditutup dengan lantai khusus baru, dan dinding teras yang cekung diratakan dengan semen mortar. Lantai lorong yang tenggelam ditutupi dengan lantai baru khusus. Pada celah batu di lantai lorong yang tidak pecah, ditutup dengan adukan semen.
Chandi Borobudur Pemugaran I (1907-1911) pemugaran pada bagian puncak candi yaitu tiga teras melingkar dan stupa induknya. Candi Borobudur setelah pemugaran Van Erp. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun hingga saat ini, hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp bertahan hingga saat ini, terutama pada bagian lorong dan lantai dataran tinggi. Hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp merupakan bentuk tanggap darurat untuk menyelamatkan sisa-sisa masa lampau yang memiliki nilai universal yang luar biasa.
Upaya pemugaran komponen struktur dan arsitektural Candi Borobudur cukup berhasil dan bertahan hingga saat ini. Prinsip pengembalian bentuk sesuai desain asli dan minim intervensi penggunaan material baru telah diterapkan pada era Van Erp, dan ini merupakan tonggak pertama bagaimana prinsip restorasi warisan budaya di Indonesia dipelajari dan diterapkan.
Restorasi Van Erp juga menjadi titik awal pengenalan dan penerapan metode pencocokan batu yang disebut metode Anastilosis. Dimulai dari tahap persiapan, perencanaan awal yang dilakukan dengan skema yang detail, pemugaran Van Erp sudah diperhitungkan dengan matang dan detail. Prinsip mempertahankan bentuk asli merupakan hal utama yang mendasari segala penanganan dan rekonstruksi Candi Borobudur.
Restorasi UNESCO dan Pemerintah Indonesia
Renovasi dan restorasi skala kecil telah dilakukan sejak saat itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang lengkap terhadap Borobudur. Dari beberapa catatan disebutkan bahwa sebelum pemugaran Borobudur yang kedua, telah dilakukan penelitian dan penggalian arkeologi untuk lebih mengetahui aktivitas-aktifitas tentang keagamaan yang pernah dilakukan di sekitar Borobudur. Dalam penggalian di sekitar candi, menemukan sisa-sisa batu bata dan berbagai artefak penting. Menurut para ahli menjelaskan bahwa dahulu terdapat bangunan vihara yang berada dekat dengan Borobudur.
Mencermati pemugaran pertama oleh Van Erp, sebenarnya masih terdapat beberapa kekurangan seperti dinding miring dan penanganan masalah air. Pada dasarnya pemugaran ini bertujuan untuk mengatasi kerusakan pada bagian kaki candi atau bagian Kamadhatu dan pada bagian atap atau tingkat Arupadhatu. Sedangkan bagian tubuh atau tingkat Rupadhatu tidak sepenuhnya dapat dipulihkan.
Pemerintah memiliki perhatian serius terhadap Candi Borobudur pada masa pemerintahan Sukarno yang memiliki rencana untuk memperbaiki dan pemugaran Borobudur. Pada tahun 1960, dirintis gagasan untuk mengatasi masalah air dan merancang saluran air dengan membuat aliran satu arah. Pada akhir tahun 1963, beberapa persiapan seperti pembuatan gambar dan sketsa, mulai dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan pada Borobudur.
Pada akhir 1967, pemerintah Indonesia menyampaikan kepada internasional tentang beberapa permasalahan yang ada di Borobudur, untuk membantu Indonesia dalam upaya penyelamatan dan pemugaran guna melindungi monumen ini. Permintaan secara internasional untuk menggelar proyek pemugaran Borobudur yang dilaksanakan pada tahun 1973, untuk membuat rencana induk pemugaran Borobudur. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk memperbaiki total monumen ini dalam proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.
Fondasi diperkuat dan 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar kelima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menyematkan saluran air ke dalam bangunan. Filter dan lapisan kedap air ditambahkan.
Cagar Budaya Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Buddha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.
Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.
Stupa Borobudur
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur, candi megah dan kurang dikenal - gunung kebajikan - pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. Chandi Borobudur or Barabudur is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.
Upanat (alas kaki) Borobudur Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menjelaskan 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan dalam kunjungan menaiki teras-teras bangunan Candi Borobudur, kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan dan seni rupa ukiran Candi Borobudur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran, mengenal lebih dekat, dan ikut serta untuk memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.








Comments
Post a Comment