Kisah Relief Borobudur Jataka dan Avadana


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga menjadi tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini. Pamong Carita yang ramah akan menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai bentuk apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan saat mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Borobudur.

Dinding lorong relief cerita Borobudur
Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana peninggalan Wangsa Sailendra, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi. Ukiran yang terpahat pada dinding Borobudur, salah satu cerita relief terkait penggambaran tokoh yang sangat bermakna bagi umat Buddha adalah cerita tentang kehidupan yang diambil dari teks Jataka dan Avadana. Salah satu cerita relief di Borobudur yang sangat indah bagi agama Budha adalah cerita tentang Jataka dan Avadana. Cerita tentang perbuatan baik dan memiliki nilai moral yang tinggi.

Jataka Avadana

Jataka dan Avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa ada perbedaan nyata pada relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem penggantian khusus yang terbukti. Relief cerita Jataka dan Awadana pada dinding Borobudur berjajar di sisi timur dan terdapat pada deretan panel relief pada pagar langkan rantai atas, ditata indah dengan ukiran halus dan mempunyai nilai estetika seni rupa.

Berjalan dari sisi timur akan menemukan dua puluh panel pertama di dinding utama galeri pertama yang menggambarkan perjalanan Sudhanakumaravadana atau karya suci Sudhana. Dengan total 135 panel relief, dinding atas pertama pada galeri yang sama di langkan dikhususkan untuk 34 cerita legendaris Jatakamala. Sedangkan 237 panel relief sisanya menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti rangkaian relief bawah dan panel pada galeri kedua.

Deretan relief pada dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka digabungkan melalui variasi. Sistem di baris atas set langkan sangat berbeda. Relief-relief tersebut hampir seluruhnya merupakan cerita Jataka, hanya sedikit cerita Avadana saja.

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum beliau dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya adalah pokok-pokok yang menonjolkan perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Bodhisattva dengan makhluk lainnya.

Beberapa cerita Jataka menampilkan fabel, yaitu cerita yang melibatkan tokoh binatang yang bertindak dan berpikir seperti manusia. Padahal, akumulasi pahala atau perbuatan baik merupakan tahap persiapan dalam upaya mencapai tingkat Kebuddhaan.

Sedangkan Avadana pada dasarnya hampir sama dengan Jataka, namun pelakunya bukanlah Bodhisattwa, melainkan orang lain dan cerita-ceritanya dikumpulkan dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan ketuhanan yang mulia, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam satu baris tanpa dibedakan. Kumpulan kisah hidup Bodhisattva yang paling terkenal adalah Jatakamala atau rangkaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup pada abad ke-4 Masehi.

Relief cerita Jataka dan Avadana pada Candi Borobudur berjajar dari sisi timur dan berada pada tingkat I pada deretan panel relief pada langkan rantai atas, ditata indah dengan ukiran halus yang memiliki nilai seni estetika budaya Borobudur yang indah.

Berjalan dari sisi timur akan menemukan baris pertama dari dua puluh panel di galeri pertama di dinding yang menggambarkan Sudhanakumaravadana, atau karya suci Sudhana. Dengan total 135 relief, panel atas pertama di galeri yang sama di langkan diperuntukkan bagi 34 legenda Jatakamala. 237 panel sisanya menggambarkan cerita dari sumber lain, begitu pula seri bawah dan panel di galeri kedua. Beberapa jataka digambarkan dua kali, misalnya kisah Raja Sibhi (nenek moyang Rama).

Jataka

Langkan: Jataka dan Avadana
Cerita Jataka di Candi Borobudur merupakan cerita tentang Sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha, yang terdapat pada deretan dinding lorong berisi cerita-cerita yang menceritakan tentang kehidupan Sang Buddha sebelumnya, baik dalam wujud manusia maupun hewan. Calon Buddha mungkin tampak di hadapan mereka sebagai raja, orang buangan, dewa, atau dalam wujud gajah, namun dalam wujud apa pun, ia menampilkan beberapa keutamaan yang diceritakan dalam cerita tersebut.
 
Beberapa cerita Jataka menampilkan fabel, yaitu cerita yang melibatkan tokoh binatang yang bertindak dan berpikir seperti manusia. Padahal, akumulasi pahala atau perbuatan baik merupakan tahap persiapan dalam upaya mencapai tingkat Kebuddhaan.

Beberapa cerita Jataka pada Candi Borobudur yang dapat dilihat pada dinding langkan misalnya adalah sebagai berikut:

Saat Bodhisattva terlahir sebagai kura-kura raksasa
Contoh nyata dari pengorbanan diri ditunjukkan oleh Bodhisattva ketika ia dilahirkan sebagai seekor kura-kura raksasa.

Suatu hari, lima ratus pedagang terdampar dan berjuang mati-matian melawan ombak. Bodhisattva muncul, membawa lima ratus orang di punggungnya, dan membawa mereka dengan selamat ke pantai.

Kura-kura itu lelah dan tertidur. Para pedagang yang tersiksa oleh kelaparan memutuskan untuk membunuh penyu tersebut dan memakan dagingnya. Bodhisattva terbangun, dan ketika dia memahami apa yang terjadi, dia merasa kasihan pada para pedagang yang kelaparan. Dia menawari mereka tubuhnya untuk dimakan, dan dengan demikian orang-orang malang itu terselamatkan.

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan
Relief ini terletak pada dinding sisi selatan langkan di bagian atas tembok Borobudur.

Sekeluarga burung puyuh tinggal bersarang di hutan. Ada seorang anak yang tidak mau memakan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya memakan tumbuhan dan biji-bijian. Pada akhirnya dia tampaknya tidak tumbuh dengan baik. Ia tidak dapat terbang karena tidak mempunyai bulu pada sayapnya.

Tanpa diketahui alasannya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua hewan di hutan kebingungan dan ketakutan, berusaha mencari perlindungan. Hewan-hewan terheran-heran melihat seekor burung yang lemah, tidak mempunyai bulu sehingga tidak dapat terbang, tetap tenang di dalam sarangnya dan api seolah-olah tidak mampu membakarnya.

Berkat sikap dan perilakunya yang tidak mau memakan makhluk hidup lain dan selalu berbuat baik, doanya agar selamat dari api terkabul oleh Tuhan. Meski tak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api di dekat sarangnya sudah padam.

Kisah Bodhisattva terlahir sebagai Kelinci
Konon Bodhisattva pernah terlahir sebagai seekor kelinci. Teman terdekatnya adalah berang-berang, serigala, dan monyet. Suatu hari, ingin menguji Kelinci, Dewa Sakra muncul di hutan dalam wujud seorang Brahmana yang tersesat dan lapar.

Keempat sahabat itu bergegas menemui Brahmana dan memberikan bantuan. Berang-berang membawakan tujuh ekor ikan, serigala membawakan seekor cicak, dan kera membawakan buah-buahan yang matang. Saat ini Kelinci tidak bisa menawarkan apa pun. Kemudian Brahmana menyalakan api untuk pengorbanan, dan segera Kelinci melompat ke dalam api, mempersembahkan dirinya sebagai hewan kurban.

Raja para dewa mengagumi perbuatan suci tersebut, dan kembali ke wujudnya sendiri, dia memuji Kelinci atas pengorbanan dirinya.

Kisah Pelatuk dan Singa
Relief ini berada pada sisi selatan pada deretan panel relief pada langkan atas.

Ceritanya menceritakan bahwa di sebuah hutan hiduplah seekor burung yang baik hati. Ia memiliki bulu yang indah dan tidak ingin menyakiti makhluk lain. Oleh karena itu ia merasa cukup hanya memakan bunga, daun, dan buah saja.

Suatu hari, burung pelatuk melihat seekor singa yang kesakitan karena ada tulang yang tersangkut di tenggorokannya. Pelatuk memerintahkan singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan sepotong kayu yang diletakkan tegak di antara rahangnya maka mulut singa dapat terbuka. Pelatuk akhirnya mampu mengeluarkan tulang dari tenggorokan singa dengan mematuknya.

Suatu hari, burung pelatuk sedang lapar dan kebetulan melihat singa yang pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung pelatuk memohon kepada singa untuk memberinya daging tetapi singa tidak memberikannya dan bahkan mengusir burung pelatuk tersebut. Pelatuk meninggalkan singa dan tidak menaruh dendam padanya. Meski Tuhan menyarankan agar burung pelatuk mematuk mata singa agar buta, namun burung pelatuk tidak mau melakukannya.

Avadana

Awadana merupakan kisah yang pada dasarnya mempunyai kemiripan dengan kisah Jataka, namun bukan Bodhisattva yang diceritakan. Kisah Avadana yang berkaitan dengan cerita Jataka yang tokoh utamanya bukanlah Bodhisattva itu sendiri, menceritakan tentang perbuatan akhlak suci dalam avadana yang dikaitkan dengan orang-orang yang melegenda dan kisah-kisahnya dikumpulkan dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan ketuhanan yang mulia, dan buku Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam satu baris tanpa dibedakan. Kumpulan kisah hidup Bodhisattva yang paling terkenal adalah Jatakamala atau rangkaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup pada abad ke-4 Masehi.

Sejumlah 20 panel relief pertama pada seri bawah pada dinding utama galeri pertama merupakan panel cerita yang menggambarkan tokoh bernama Sudhanakumaravadana atau Perbuatan Suci Pangeran Sudhanakumara yang bersumber dari teks Divyavadana.

Cerita dimulai dengan persaingan dua kerajaan: kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang miskin. Raja Selatan menyadari bahwa Panchala Utara berutang kemakmurannya kepada Naga bernama Janmachitraka, yang bersahabat dengan saingannya, dan memastikan curah hujan teratur.

Dia memutuskan untuk mencari bantuan dari pawang ular sakti untuk memindahkan Naga tersebut ke Panchala Selatan. Atas jasanya, sang pemburu dihibur oleh keluarga Naga dan dihadiahi permata yang tak ternilai harganya. Namun, seorang peramal menyarankan Halaka untuk mengambil laso yang tidak pernah gagal yang dimiliki para Naga.

Pangeran Sudhanakumara menunjuk seorang brahmana sebagai calon pendeta istananya, yang membuat pendeta tinggi ayahnya kesal karena melihat masa depannya lenyap ditelan asap. Putra mahkota meminta ibunya untuk menjaga Manohara, dan berjalan keluar.

Tanpa diduga dia mendapat dukungan penuh dari raja Yaksa (iblis yang baik hati), yang bergabung dalam ekspedisi dengan pasukannya yang besar. Sementara itu, mimpi buruk raja ditafsirkan oleh pendeta tinggi yang galak sebagai mimpi buruk; menurutnya, bahaya hanya bisa dihindari dengan mengorbankan seorang Kinnara.

Meski sangat kecewa, raja akhirnya bersedia mengorbankan Manohara. Setelah menempuh perjalanan jauh, Sudhanakumara sampai di ibu kota kerajaan, Kinnara. Raja Druma, ayah Manohara, bersedia menyambut kedatangan Pangeran Sudhanakumara. Sang pangeran dengan meyakinkan menunjukkan keunggulannya dalam memanah, dan kemudian menunjukkan cinta sejatinya pada Manohara dengan memilih istrinya di antara kerumunan Kinnara yang tampil identik dengannya.

Segera setelah itu dia asyik dengan lukisan dan anotasi, dan memasuki meditasi. Ia mencapai tingkat Srotapanna, yang merupakan salah satu tahapan kesempurnaan. Saat itu Rudrayana menginginkan seorang pendeta Buddha di istananya, dan Bimbisara mengirimkan Mahakatyayana ke Roruka. Bimbisara mengutus Perawat Saila.

Ratu Chandraprabha sangat terkesan dengan ajaran Buddha sehingga ketika kematiannya semakin dekat, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Memang benar, setelah kematiannya, dia tampil sebagai seorang dewi, dan membujuk pasangannya untuk mengikuti teladannya.

135 panel relief pertama pada seri atas pada langkan galeri pertama dikhususkan untuk 34 cerita legenda Jatakamala. Seri sisanya yang berjumlah 237 panel relief menggambarkan cerita dari sumber lain, begitu pula seri bawah dan yang ada di langkan galeri kedua.

Cerita-cerita ini tidak semuanya Jataka, tetapi juga mencakup beberapa cerita Avadana. Beberapa Jataka digambarkan dua kali, meski tidak dalam rangkaian yang sama. Kisah Raja Sibhi dipajang di dinding utama dan langkan galeri pertama. Jataka tidak disusun secara kronologis mulai dari reinkarnasi Bodhisattva sebagai hewan hingga kelahirannya kembali di surga, begitu pula reliefnya.

Ukiran dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola dekoratif Borobudur bergaya naturalistik dengan proporsi ideal dan cita rasa estetika yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap paling anggun dan luwes dalam dunia seni Buddha. Salah satu ukiran indahnya adalah relief Jataka Avadana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto di arisguide.


Jataka Awadana
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, panel-panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para Brahmana.

Upanat Borobudur
Pemberian alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki khusus yang dipersembahkan kepadna para Brahmana, guna memperoleh pahala dan kesejahteraan dalam hidup.

Upanat Borobudur
Salah satu relief pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, berkisah tentang alas kaki persembahan dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, guna memperoleh pahala dan kesejahteraan dalam hidup. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto arisguide.


Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Detailnya:
Dapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur di Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih asyik, mengeksplorasi narasi tematik lebih detail di Kebudayaan Borobudur - Belajar Dengan Pemandu Wisata.

Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang dibangun pada abad ke 9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya asli Indonesia yaitu pemujaan leluhur dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, yang di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief serta 504 patung Buddha.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Gambar Borobudur

Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang dibangun pada abad ke 9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya asli Indonesia yaitu pemujaan leluhur dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur. foto di arisguide.

Struktur piramida berundak
Stupa induk terbesar terletak di tengah dan memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga baris melingkar sebanyak 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat patung Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto arisguide.

Pemandangan Borobudur dari Bukit Dagi

Pemandangan Borobudur yang indah dari Bukit Dagi. Borobudur merupakan candi Budha yang dibangun di atas bukit pada masa pemerintahan Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur is a Mahayana Buddhist temple built in the 9th century, consisting of nine terraced terraces, six square terraces and three circular terraces, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur
Keindahan ukiran relief cerita Borobudur pada dinding dan langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto di arisguide.

Chandi Borobudur
Situs Warisan Budaya Dunia sejak tahun 1991, salah satu pemandangan Borobudur dari barat laut. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. foto arisguide. 

Borobudur
Borobudur Temple is a Mahayana Buddhist temple, built in the 9th century during the reign of the Sailendra Dynasty, this temple was designed in the form of Javanese Buddhist architecture, which combines native Indonesian culture, namely ancestor worship and the Buddhist concept of achieving Nirvana.

Chandi Borobudur or Barabudur is a Mahayana Buddhist temple built in the 9th century, consisting of nine terraced terraces, six square terraces and three circular terraces, on top of which there is a large stupa, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Comments

Popular Posts