Cerita Relief Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.

Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur, bersama Pamong Carita.

Pamong Carita yang ramah akan menemani di kesempatan menarik ini dengan memberikan narasi dan penjelasan yang bertujuan untuk mengenal dan mempelajari lebih dekat tentang Borobudur dan sekitarnya. Menyenangkan bersama Pamong Carita untuk memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan saat mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas melingkar dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Berwisata bersama Pamong Carita, mengenal Borobudur dan sekitarnya, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa warisan budaya leluhur Borobudur. Jelajahi literatur sejarah keberadaan Candi Borobudur pada masa Jawa Kuno dalam tur tematik, dan belajar mendalami keindahan seni rupa ukiran Borobudur.

Relief kapal Borobudur
Gambaran terkenal dari kapal cadik ganda Asia Tenggara abad ke-8 adalah Kapal Borobudur Samudra Raksa, berlayar dari Indonesia ke Afrika. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. photo arisguide.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha.

Relief Borobudur

Chandi Borobudur memang istimewa di kalangan candi-candi Indonesia, bukan hanya karena arsitekturnya yang luar biasa, namun juga kaya akan ukiran relief yang indah dan menakjubkan. Bahkan pahatan dan ukiran relief yang menutupi dinding dan langkan merupakan gambar artistik yang memiliki nilai estetika luar biasa sebagai bangunan suci bagi umat Buddha.Ukiran relief Borobudur dibedakan menjadi dua jenis yaitu naratif dan dekoratif. Panel 1460 tersebut merupakan relief naratif yang disusun dalam sebelas baris, semuanya dipahat pada batu dan mengelilingi monumen dengan panjang total lebih dari 3000 m. Panel dekoratif 1212, meskipun disusun berjajar, diperlakukan sebagai relief tersendiri.Tampilan relief seri pertama berasal dari 160 panel naratif yang berada di kaki tersembunyi sehingga tidak terlihat. Untungnya, satu set foto lengkap dibuat tidak lama setelah penemuan kembali, dan foto-foto tersebut dapat diidentifikasi sebagai gambaran kerja hukum karma menurut teks Mahakarmavibhangga.Sepuluh rangkaian relief naratif lainnya tersebar di seluruh Rupadhatu pada dinding dan langkan keempat galeri. Galeri pertama diapit oleh empat seri; tiga galeri pemasangan berturut-turut lainnya hanya memiliki dua seri. Dinding galeri pertama, setinggi lebih dari 3,5 m, mempunyai dua rangkaian relief yang saling bertumpukan, masing-masing terdiri dari 120 panel.

Baris atas menceritakan biografi Sang Buddha menurut teks Latitavistara. Baris bawah menggambarkan kehidupan masa lalunya, seperti yang diceritakan dalam jatakas avadanas; inkarnasi awal ini sebelum dilahirkan menjadi Buddha historis juga dikisahkan dalam dua baris relief di langkan. Langkan galeri kedua memiliki seri jataka dan avadana lainnya, namun panel dindingnya mengambil tema baru.Karena hanya ada satu baris di tembok setinggi hampir 3 m, maka ukurannya jauh lebih besar daripada yang ada di dinding galeri pertama. Seri 128 panel ini membahas pengembaraan Sudhana yang tak kenal lelah dalam mencari Kebenaran Tertinggi, seperti yang diceritakan dalam teks Gandavyuha. Dinding dan langkan galeri ketiga dan keempat dikhususkan untuk pengembaraan Sudhana selanjutnya, yang diakhiri dengan pencapaian Kebijaksanaan Tertinggi. Ada di seluruh 1460 panel.Relief naratif pada dinding dibaca dari kanan ke kiri, dan pada langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini dilakukan untuk keperluan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi yang dilakukan peziarah, bergerak searah jarum jam dan menjaga tempat suci di sebelah kanannya. Narasi dimulai dari kiri dan berakhir di kanan tangga timur, menegaskan bahwa tangga tersebut adalah pintu masuk monumen yang sebenarnya.

Dinding Relief Borobudur

Chandi Borobudur dibangun dengan sedemikian rupa sehingga monumen ini memperlihatkan berbagai tingkat pahatan relief pada dindingnya, dengan bentuk arsitektur rumit yang menggambarkan relief-relief tersebut, mulai dari yang banyak dihiasi relief, hingga polos di teras-teras melingkar Arupadhatu.

Chandi Borobudur berisi sekitar 2.670 relief dasar individu (1.460 narasi dan 1.212 panel dekoratif), yang menutupi dinding dan langkan. Total permukaan reliefnya adalah 2.500 meter persegi (27.000 kaki persegi), dan tersebar di kaki tersembunyi (Kamadhatu) dan lima platform persegi (Rupadhatu).

Para arkeolog menemukan pigmen warna biru, merah, hijau, hitam, serta potongan-potongan kertas emas, dan menyimpulkan bahwa terdapat pada monumen yang merupakan suatu kumpulan batu vulkanik berwarna abu-abu gelap, kurang berwarna atau mungkin pernah dilapisi dengan plester putih varjalepa dan kemudian dicat dengan warna-warna cerah, mungkin berfungsi sebagai mercusuar ajaran Buddha. Plester vajralepa yang sama juga dapat ditemukan di Candi Sari, Kalasan, dan Sewu. Kemungkinan besar relief dasar Borobudur awalnya berwarna-warni, sebelum curah hujan tropis yang deras selama berabad-abad menghilangkan pigmen warnanya.

Panel naratif di dinding dibaca dari kanan ke kiri, sedangkan di langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini sesuai dengan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi yang dilakukan oleh peziarah yang bergerak searah jarum jam dengan tetap menjaga tempat suci di sebelah kanannya.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus, bahkan dianggap paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir adalah relif-relief Karmawibangga, Lalitavistara, Jataka Awadana, dan Gandavyuha pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief

Pada dinding-dinding candi di setiap tingkatan, kecuali pada teras-teras lingkaran Arupadhatu, dipahatkan panel-panel relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Relief Borobudur juga menerapkan disiplin seni rupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari ataupun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.

Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti.

Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala yang dibuat berdasarkan relief Borobudur dengan nama kapal Samudra Raksa.

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jataka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri daberakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Relief Candi Borobudur

Relief cerita pada dinding - dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, yang terdiri dari relief dekoratif (hiasan) berjumlah 1.212 pigura, dan seluruhnya tersusun dalam 11 deret yang mengelilingi bangunan. Sebagian besar seluruh relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai jalan cerita yang terdiri atas gambaran dewa, manusia, binatang, pohon, bangunan rumah, dan lain-lain.

Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bagaikan kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual dimulai dari bagian kaki candi sampai dengan dinding lorong tingkat 1-4. Gambaran yang dipahatkan pada relief Karmawibhangga diperoleh dari kenyataan realita hidup sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga menyimpan banyak informasi, diantaranya kondisi flora fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan wanita, dan masih banyak lainnya.

Lokasi relief.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Atribut Borobudur sebagai warisan budaya dunia meliputi sebagai berikut: Struktur batu andesit sebagai bangunan monumen agama Buddha yang dibangun pada abad VIII – IX M dari Dinasti Sailendra, Arsitektural candi dan stupa, motif pahatan, relief naratif dan simbolis pada bidang candi, dan lorong galeri, Konsep filosifis Buddha untuk mencapai nirwana pada 10 tingkatan struktur candi, Hubungan dari ketiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon dalam satu garis imajiner beserta prosesi yang masih ada sampai sekarang, Lanskap alam dan budaya (sungai, sawah, danau purba, rumah pedesaan, dan lingkungan pedesaan).

Atribut pedesaan Jawa Kuna meliputi beberapa hal sebagai berikut: Atribut lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuna berupa sawah (savah), sawah pasang surut (rénék), sawah tadah hujan (gāga), ladang/ tegalan (tgal), kebun (kbuan), hutan (alas), gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar, Alat yang digunakan untuk mengenali interpretasi atribut tersebut adalah relief dan prasasti.

Menengok kehidupan masyarakat Jawa Kuno, dalam budaya pertanian dan pengolahan makanan dan minuman. Atribut lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian. Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan, diantaranya menyebutkan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan. Pada lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya, yaitu bahwa sawah oleh masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X Masehi, mempunyai tujuan tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi saja, tetapi juga untuk kebutuhan dalam menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.

Susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut:
Kaki candi - Karmawibhangga - 160 Pigura.
Tingkat I
Dinding Utama a. Lalitawistara - 120 Pigura. b. Jataka/Awadana - 120 Pigura.
Langkan a. Jataka/Awadana - 372 Pigura. b. Jataka/Awadana - 128 Pigura.
Tingkat II
Dinding - Gandawyuha - 128 Pigura.
Langkan - Jataka/Awadana - 100 Pigura.
Tingkat III
Dinding - Gandawyuha - 88 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 88 Pigura.
Tingkat IV
Dinding - Gandawyuha - 84 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 72 Pigura.
Jumlah - 1460 Pigura.

Kaki candi ----- Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga didinding sudut tenggara yang sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma.

Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan suatu cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala.

Kaki candi tersembunyi merupakan deretan relief yang ditulis dalam teks Karmawibhangga yaitu menjelaskan tentang gambaran ajaran karma. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan di akhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan di Museum Borobudur di sisi utara candi Borobudur.

Lalitawistara

Lalitavistara Sutra merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama ang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surge Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. 6Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda. Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an. Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.

Chandi Borobudur
World Cultural Heritage Site since 1991, one of the views of Borobudur from the northwest. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. photo arisguide.


Candi Borobudur
Borobudur atau disebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama Candi Borobudur, berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat peribadatan umat Buddha atau pura, dan kata 'budur' berasal dari kata Bali 'beduhur', yang artinya 'di atas' atau 'bukit'. Maka arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 atau 9 M, pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini didesain dengan arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.

Borobudur merupakan candi Buddha Mahayana yang terdiri dari enam teras bujur sangkar dan tiga teras melingkar, serta terdapat stupa terbesar di tengahnya, dikelilingi oleh 72 stupa yang berterawang, serta dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Menilik sejarah Chandi Borobudur, bangunan suci ini terletak di atas bukit dan dibangun di tengahnya serta dikelilingi oleh beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terlihat Gunung Merbabu dan Merapi. Ke arah utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Selamat datang, senang dengan perjalanan mengunjungi kemegahan chandi Borobudur, yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dan sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia. Keramahan pemandu wisata, akan mengantar dan memberikan narasi dalam mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur dalam panduan wisata sejarah Borobudur.

Chandi Borobudur
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Undakan tangga naik Borobudur.
Tangga candi Borobudur mendaki melalui dekorasi gapura kepala Kala Makara. Sumber: Teknik Pemandu Chandi Borobudur arisguide. Tangkapan layar gambar arisguide.




Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.

Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.

Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' merupakan alas kaki yang digunakan pada saat mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi

adalah Candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.


Comments

Popular Posts